Inibatam, Batam – Kenduri Seni Melayu (KSM) Batam kembali digelar pada 2026. Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-27 sejak pertama kali berlangsung pada 1999.
Selama hampir tiga dekade, KSM terus hadir tanpa jeda. Konsistensi itu membuat festival ini menjadi salah satu agenda budaya Melayu yang paling bertahan di Indonesia.
Pemerhati seni, budaya, dan pariwisata, Buralimar, mengatakan KSM bukan sekadar pesta rakyat. Menurutnya, festival ini merupakan ruang untuk menjaga identitas dan warisan budaya Melayu.
“KSM telah menjadi kebanggaan masyarakat Batam dan Kepulauan Riau. Bahkan, festival ini juga dikenal di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand Selatan,” katanya.
Angkat Budaya Melayu
Tahun ini KSM mengusung tema “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban.”
Buralimar menjelaskan tema tersebut mengandung pesan yang kuat. Budaya harus dirawat secara terus-menerus agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia mengibaratkan pelestarian budaya seperti menanam padi. Benih harus disemai, dirawat, lalu dipanen. Proses itu membutuhkan kesabaran dan kerja bersama.
Menurutnya, KSM menjadi ruang bertemunya masyarakat Melayu dari berbagai daerah. Festival ini juga mempererat hubungan budaya antarnegara serumpun.
Dorong Ekonomi Masyarakat
Selain menjaga budaya, KSM juga memberi manfaat ekonomi.
Festival ini membuka peluang bagi pelaku UMKM. Mereka dapat menjual kuliner khas Melayu seperti lakse, mi lendir, dan teh tarik.
Pengrajin songket, tekat, dan tanjak juga memperoleh ruang untuk memasarkan produknya.
“KSM harus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Budaya dan ekonomi harus tumbuh bersama,” ujar Buralimar.
Perlu Naik Kelas
Meski demikian, Buralimar menilai gaung KSM mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir.
Ia berharap penyelenggara terus meningkatkan kualitas festival. Perbaikan perlu dilakukan pada konsep acara, tata panggung, promosi, dan kurasi pertunjukan.
Dengan kemasan yang lebih baik, KSM diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan.
Menurutnya, Batam memiliki posisi yang strategis. Kota ini dekat dengan Singapura dan Malaysia sehingga berpeluang menjadi pusat wisata budaya Melayu.
Regenerasi Seniman
Buralimar juga menyoroti pentingnya regenerasi seniman Melayu.
Saat ini banyak pelaku seni tradisional telah berusia lanjut. Sementara itu, jumlah generasi muda yang meneruskan tradisi masih terbatas.
Karena itu, KSM harus menjadi ruang pembinaan bagi seniman muda.
Berbagai kesenian seperti zapin, ghazal, mak yong, dan Gurindam Dua Belas perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Ia mengutip pesan budayawan Melayu Tenas Effendy.
“Kalau tak dihidupkan, budaya akan lapuk ditelan zaman.”
Momentum Kebangkitan
Buralimar berharap Kenduri Seni Melayu 2026 menjadi momentum kebangkitan budaya Melayu.
Ia ingin festival ini kembali menjadi agenda budaya unggulan di Batam. Tidak hanya ramai dikunjungi masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara.
“KSM harus menjadi etalase budaya Melayu yang membanggakan. Festival ini juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Dengan menjaga KSM, masyarakat ikut menjaga identitas Melayu agar tetap hidup di masa depan. (*)









